Sunday, October 20, 2013

Impotensi Sembuh Dengan Terapi Kejut

Disfungsi ereksi (DE) ataupun ejakulasi dini merupakan penyakit yang paling ditakutkan kaum pria. DE dapat menyebabkan ketidakharmonisan hubungan dengan pasangan. Namun tak perlu khawatir karena kini DE bisa disembuhkan dengan terapi kejut  atau penembakan dengan gelombang intensitas rendah. Seperti apa?

Saat ini masalah disfungsi ereksi (DE) masih menjadi penyakit yang menakutkan bagi kaum pria karena dapat menyebabkan ketidakharmonisan dengan pasangan dan dapat menurunkan kualitas hidup penderita DE.
Dijelaskan oleh dr. Ponco Birowo, SpU, Ph., dokter Spesialis urologi, DE merupakan salah satu gangguan fungsi seksual yang umum dialami oleh pria berusia di atas 40 tahun. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), penderita DE terus bertambah. Pada tahun 1995 diperkirakan ada sekitar 152 juta pria penderita DE di dunia, tetapi pada tahun 2025 nanti diperkirakan penderita DE di dunia mencapai 200-300 juta orang.

DE atau impotensi adalah kondisi medis yang ditandai ketidakmampuan untuk memperoleh dan mempertahankan suatu ereksi yang cukup untuk suatu hubungan seksual yang memuaskan. DE dibedakan menjadi tingkatan ringan, menengah dan parah. Pada tingkat ringan, seorang pria masih bisa mencapai ereksi penuh walaupun lebih sering mencapai ereksi yang tidak penuh atau cukup untuk melakukan penetrasi atau tidak bisa ereksi sama sekali. Sementara untuk DE yang parah, seorang pria tidak bisa mencapai ereksi. Yang menentukan berat ringannya DE tergantung dari penilaian dokter. Untuk mengetahui terkena DE atau tidak dan diketahui penyebabnya disarankan untuk melakukan kontrol ke dokter spesialis urologi.

Penyebab DE. Faktor psikologis dan fisik menjadi penyebab terjadinya DE, namun penyebab terbesar terjadinya DE adalah faktor psikogenik. Jika dilihat dari faktor psikologis, disebabkan karena mekanisme fungsi ereksi membutuhkan interaksi kompleks antara sistem organik atau fisik seperti pembuluh darah, persarafan dan hormonal, serta psikologis seperti depresi, kecemasan dan komunikasi yang kurang balk dengan pasangan, serta pemicu saraf (neurotransmitter, NO/nitrit oxide).

Sementara faktor fisik karena penyakit degeneratif seperti diabetes melitus, hiperlipidemia (kolesterol tinggi), gangguan fungsi ginjal, gangguan fungsi liver, hipertensi, stroke, kelainan jantung (gagal jantung dan penyakit jantung koroner), proses penuaan, gangguan hormonal (resistensi insulin, penurunan kadar testosteron), serta trauma daerah panggul (saluran sistem reproduksi pria) seperti setelah operasi prostat, minum minuman beralkohol, merokok dan minum obat penenang dalam jangka lama.

Selain itu, penderita DE juga akan mengalami efek dari penyakitnya, yang dibagi menjadi dua faktor, yaitu faktor organik dan faktor psikogenik. Akibat dari faktor organik pada penderita DE adalah hilangnya minat pada aktivitas seksual ukuran testis yang mengecil, serta penurunan tanda-tanda seksual sekunder seperti bulu rambut, kekuatan otot, kadar testosteron atau masalah hormonal lainnya.

Sementara faktor psikogenik adalah pasangan sulit mendapatkan orgasme, serta hubungan suami istri kurang harmonis sehingga dapat menyebabkan stres pada pasangan, depresi, perasaan bersalah dan perasaan takut akan keintiman. Namun, DE bukan penyakit keturunan tetapi merupakan penyakit akibat proses penyakit atau perjalanan hidup. Oleh karena itu sebaiknya menjaga pola hidup yang sehat dan teratur seperti pola makan yang baik dan berolahraga.

Jika sudah mengalami masalah DE, menurut dr. Em. Yunir, SpPD, KEMD, dokter spesialis penyakit dalam, konsultan metabolik endokrin, penyakit DE dapat minum obat khusus untuk meredam penyakit DE yang diminum pada saat sakit atau dibutuhkan ketika akan berhubungan intim dengan pasangan. Konsumsi obat DE ini harus dilakukan seumur hidup, tetapi tidak setiap hari. Pasalnya penyakit DE memiliki struktural permanen karena pembuluh darah dalam Mr. P sudah mengeras sehingga membutuhkan pengobatan secara berkala.

Penyembuhan penyakit DE dibagi tiga line. Penyembuhan dengan lini pertama dilakukan dengan mengobati penyebab DE seperti memodifikasi gaya hidup (penurunan berat badan, berhenti merokok dan olahraga), obat atau farmakoterapi, serta alat vakum ereksi. Sementara penyembuhan dengan lini kedua dilakukan dengan cara melakukan injeksi ke badan Mr. P dan injeksi ke saluran keiuar kemih (intraurethral). Sedangkan penyembuhan dengan lini ketiga dilakukan dengan cara bedah protesis, terapi hormon, revaskularisasi Mr. P, serta terapi seks. Tentu saja, dalam menjalani ketiga cara pengobatan tersebut harus didukung oleh pasangan.

Terapi Kejut. Selain dengan tiga lini terapi tersebut, ada alternatif lain untuk menyembuhkah DE tanpa obat-obatan, Terapi alternatif tersebut adalah terapi kejut atau low intensity extracorporeal shockwave therapy (LI-ESWT). Terapi kejut adalah terapi yang menggunakan alat yang ditempelkan pada Mr. P dan ditembakkan dengan menggunakan gelombang intensitas rendah.

Terapi dengan alat gelombang kejut intensitas rendah dapat memperbaiki aliran darah ke Mr.P. Alat ini merupakan terapi revolusioner, karena merupakan tindakan non invasif (tanpa pendarahan) dan dapat memberikan harapan kesembuhan tanpa minum obat. Cara kerjanya dengan menempelkan alat LI-ESWT pada bagian puncak, tengah dan pangkal Mr. P lalu, ditembakkan gelombang dengan intensitas rendah.

Teknik LI-ESWT ini pada dasarnya dilakukan dengan penembakan yang akan menimbulkan shear stress atau tegangan geser sehingga berdampak positif dengan munculnya pembuluh-pembuluh darah baru. Terapi LI-ESWT dapat dilakukan seminggu dua kali dan sekali terapi membutuhkan waktu selama 20 menit. Ada tiga tahapan dalam terapi ini yaitu tahapan pertama dilakukan enam kali tembakan selama tiga minggu berturut-turut, tahapan kedua terapi diistirahatkan selama tiga minggu, lalu tahapan ketiga dilanjutkan enam kali terapi selama tiga kali berturut-turut.

Sebelum melakukan terapi LI-ESWT dilakukan pemeriksaan north to night final to person yaitu alat yang ditempel pada batang kemaluan dan diukur apakah pada saat tidur timbul ereksi atau tidak. Pada orang normal pemasangan alat ini menimbulkan ereksi, tetapi jika tidak ereksi maka dilanjutkan dengan terapi LI-ESWT. Hasil dari penggunaan LI-ESWT dapat diukur dari erection hardness yaitu alat untuk mengukur kekerasan ereksi untuk penetrasi. Penilaian skor terdiri atas angka 1, 2, 3 dan 4. Nilai skor1 dan 2 artinya belum mampu mencapai ereksi yang cukup kuat untuk penetrasi, nilai skor 3 dan 4 artinya sudah mampu mencapai ereksi yang cukup kuat untuk penetrasi.


Alat LI-ESWT ini memiliki efek klinis dan fisiologis positif jangka pendek pada fungsi ereksi pemakai obat oral (PDE-5i). Terapi ini dianggap layak, serta efek samping yang merugikan minim, sehingga terapi LI-ESWT ini menjadi sebuah pilihan untuk mengatasi DE. Namun biayanya masih cukup mahal yaitu sekitar Rp 30 juta. Selain dengan terapi, untuk menunjang kesembuhan DE maka harus diikuti dengan perubahan pola hidup yang lebih sehat dan teratur misalnya tidak merokok, banyak makan sayur-sayuran dan buah-buahan serta berolahraga seperti treadmill yang dapat dilakukan dua sampai tiga kali seminggu. Jika terbebas dari DE maka keharmonisan pasangan suami istri akan terjaga. Anita Permatasari (Info kecantikan)

0 komentar:

Post a Comment