Saturday, October 6, 2012

Tidak Semua Benjolan Bersifat Kanker


Kanker payudara adalah jaringan yang tumbuh tak terkendali di payudara. Sel-sel agresif itu juga bisa jalan-jalan ke bagian lain tubuh. Namun, tak Semua benjolan jaringan di payudara sifatnya ganas. Untuk mengetahui apakah sebuah jaringan bersifat kanker atau tidak, perlu pemeriksaan biopsi kanker belum tentu menyebabkan kematian bila di deteksi dini.  

Tubuh terdiri atas triliunan sel-sel hidup. Sel yang normal tumbuh membelah diri dan mati dengan teratur. Dalam tahap kehidupan awal manusia, sel-sel normal membelah diri lebih cepat untuk pertumbuhannya. Namun, setelah manusia dewasa, sebagian sel membelah diri hanya untuk menggantikan sel yang rusak atau mati. Kanker terjadi ketika sel-sel di bagian tubuh tertentu mulai membelah diri dan tak terkontrol. Pertumbuhan sel kanker berbeda dengan pertumbuhan sel normal. Bukannya mati, sel kanker terus berkembang dan membentuk benjolan Sel-sel kanker. 

Biopsi Diikuti Operasi
Sel-sel agresif tersebut tumbuh dan menyerang jaringan lain, sesuatu yang tak bisa dilakukan sel normal. Sel yang tumbuh tak terkontrol dan menyerang jaringan lain menjadikan sel tersebut sel kanker. 
Kanker payudara adalah kanker yang bermula di sel-sel payudara. Umumnya kanker payudara ditemukan pada wanita. Meski begitu, pria juga bisa mengalami kanker payudara. 
Tidak semua benjolan di payudara sifatnya ganas.Tumor payudara jinak merupakan pertumbuhan tak normal yang tidak menyebar ke bagian lain tubuh. Tumor jinak itu tidak menyebabkan kematian. Kendati demikian, benjolan payudara jinak bisa meningkatkan risiko seorang perempuan terkena kanker payudara. 
Untuk membedakan benjolan payudara itu ganas atau tidak, perlu pemeriksaan biopsi dari dokter. Tumor ganaslah yang harus diwaspadai ketika berhasil ditemukan lewat biopsi. 
"Kadang biopsi langsung diikuti oleh operasi kalau diketahui banyak jaringan tersebut memang positif kanker ujar Dr. See Ti Hui, konsultan senior onkologi medis dari Parkway Cancer Center Singapura.

Mutasi Positif
Dr. Noorwati Sutandyo dari Sub bagian Hematologie Onkologi Medik, FKUI/RSUP Cipto Mangunkusumo Jakarta, membagi risiko kanker payudara menjadi empat, yaitu genetik, hormon, diet, dan lingkungan. "Pada faktor genetik, ada titik luka DNA yang diturunkan dari orangtua kepada anaknya," katanya.     
Seseorang yang memiliki keluarga terutama ibu atau saudara perempuan yang pernah terkena kanker payudara atau indung telur, risikonya lebih tinggi.
Di samping itu, peluang perempuan atau lelaki kena kanker payudara semakin tinggi jika terbukti positif ada  mutasi gen BRCA1 atau BRCA2 pada pemeriksaan genetik dan darah. Menurut The American Cancer Society (ACS), mereka yang terbukti positif ada mutasi genetik memiliki peluang 80 persen kena kanker payudara. 
”Risiko akan lebih tinggi lagi ketika kanker payudara dialami anggota keluarga langsung seperti ibu, saudara perempuan, atau anak perempuan. Apalagi jika kanker tersebut menyerang saat mereka berusia di bawah 50 tahun,"ungkap Dr. Noorwati. 
Tingkat harapan hidup pasien kanker payudara menjadi semakin tinggi ketika kanker ditemukan sedini mungkin. Sebisa mungkin kanker ditemukan sebelum mulai menimbulkan gejala-gejala. Buat dokter yang merawat pasien kanker, menemukan kanker sedini mungkin bisa menyelamatkan nyawa.
Pengobatan kanker payudara membutuhkan kemoterapi. Kemoterapi dilakukan sebelum operasi sebagai terapi adjuvant atau tambahan. Kemoterapi ini diperlukan untuk mengecilkan tumor sebelum operasi
”Dengan demikian, operasi yang dilakukan jadi operasi kecil, Tumor besar berarti operasi yang lebih besar. Operasi rekonstruksi payudara pun jadi lebih mahal,' kata Dr. See.

0 komentar:

Post a Comment